Meneladani Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرِ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

“Sungguh telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Alloh. “ (QS. Al Ahzab, ayat 21 )

Seorang yang mempunyai idola tentu saja perilakunya tidak jauh dari sosok yang diidolakan. Berusaha menyukai hal-hal yang disukainya, bahkan berusaha mati-matian untuk berpola hidup seperti sang idola. Seorang yang mempunyai teladan yang baik,dia akan mendapatkan pengaruh baik, baik itu dari segi sikap ataupun perangainya.  Sebaliknya, seorang yang salah dalam memilih tokoh teladan atau idola maka perilakunya pun tidak akan jauh dari tokoh yang diidolakannya.

Itulah kenyataan yang terjadi dewasa ini, bahwa banyak sekali umat, terutama kaum muda , yang mengidolakan bahkan meniru perilaku tokoh-tokoh  popular tertentu, seperti atlit-atlit  olah raga, ilmuwan, dai, atau seniman. Padahal tak jarang kita melihat bahwa tokoh-tokoh yang dijadikan panutan tersebut adalah manusia-manusia  yang sesungguhnya memiliki perilaku yang jauh dari islam. Sungguh Ironis memang.

Maka kembali , fitroh kita sebagai seorang muslim, sosok yang seharusnya kita teladani tak lain adalah Rosululloh Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Seorang penyabar yang mau menyuapi makan musuhnya yang bermata buta dengan tangannya sendiri setiap hari, menjenguk seorang kafir yang sakit padahal orang itu setiap bertemu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam meludahi dan menimpukinya dengan kotoran hewan. Dermawan yang selalu menafkahkan rezekinya, meski untuk kehidupan sehari-harinya dalam kefakiran. Hamba yang kakinya menjadi bengkak karena seringnya tahajud, padahal beliau adalah manusia yang telah dijamin masuk surga oleh Robbnya. Pemimpin yang adil terhadap keluarga dan masyarakat yang dipimpinnya. Manusia yang Alloh ta’ala dan para malaikatpun memberikan sholawat untuknya.

Sungguh pribadi yang luar biasa yang dapat menjadi panutan dan suri teladan bagi kaum muslimin seluruhnya. Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai umatnya menjadikan Rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam sebagai figur yang harus diteladani dalam segala komponen kehidupan.

Bagaimanakah kita meneladani Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam?

Hal itu dapat kita lakukan dengan mengikuti perbuatan-perbuatannya shollallohu ‘alaihi wasallam, menghidupkan sunnah-sunnahnya shollallohu ‘alaihi wasallam baik berupa perbuatan, perkataan maupun penetapan beliau shollallohu ‘alaihi wasallam.  Disebutkan di dalam Surat Ali Imron, Alloh I berfirman, ”Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Alloh mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali ‘Imran, ayat 31)

Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini beliau berkata, “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Alloh, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rosululloh,  maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/477)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas diceritakan bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam tentang hari kiamat. Ia berkata, ”Kapan hari kiamat terjadi?” maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam balik bertanya, ”Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?” Ia menjawab, ”Tidak ada sama sekali. Hanya saja,sesungguhnya saya mencintai Alloh dan Rosulnya.” Maka beliau bersabda, ”Engkau bersama orang yang engkau cintai.” Anas pun mengatakan, ”Tidaklah kami berbahagia dengan sesuatu seperti halnya kebahagiaan kami dengan sabda Rosululloh.” Engkau bersama orang yang engkau cintai,” Anas berkata,”Karena saya mencintai Nabi, Abu Bakar dan Umar,dan saya berharap saya bersama mereka karena kecintaan saya kepada mereka, meskipun saya tidak beramal seperti amal mereka.” (HR Bukhori)

Meneladani beliau adalah salah satu wujud cinta kita kepadanya. Ini di karenakan seseorang tidak mungkin menjadikan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sebagai teladan melainkan sebelumnya telah didasari dengan cinta. Berbahagialah orang yang memberikan cinta dalam dirinya setelah Alloh ta’ala kepada manusia yang diridhoi dan dicintaiNya.

Dengan melihat hadits di atas,maka akankah kita memilih teladan dan panutan yang lain setelah kita mengetahui dan yakin bahwa kita akan bersama orang yang kita teladani dan kita cintai nanti di hari kiamat ? Tentu saja jawabannya TIDAK bukan…

Oleh karena itu, marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk senantiasa mencintai beliau dengan cara meneladaninya, mengikuti ucapannya dan mentaati perintahnya, sehingga kita semua dikumpulkan oleh Alloh ta’ala bersama beliau di telaga Kautsarnya. Sehingga kelak akan diberi minum dari tangan beliau yang mulia, berupa air Kautsar yang tidak akan menjadikan manusia merasa kehausan untuk selamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *