Meneladani Nabi Muhammad Dalam Membina Rumah Tangga

Keluarga merupakan skup terkecil dalam organisasi  kelompok masyarakat. Karena itu, berangkat dari yang kecil tersebut seseorang ditempa untuk dewasa dalam menghadapi berbagai problem. Keberhasilan dalam memimpin keluarga sering dijadikan salah satu kriteria bagi kesuksesan seseorang. Ia belum dianggap sukses kalau keluarganya masih berantakan atau banyak persoalan yang tidak terselesaikan. Betapa banyak pemimpin yang sukses dalam karir dan bisnis, tetapi gagal dalam memimpin rumah tangga. Misalnya, ada pengusaha atau pejabat yang anaknya terlibat narkoba atau tindak kriminal lainnya. Atau, paling tidak anak-anaknya kurang merasakan kasih-sayang kedua orang tua mereka. Sang ayah sibuk berbisnis dan tidak mempunyai banyak waktu untuk keluarga.

Disisi lain, sang ibu juga mempunyai kesibukan yang sama. Akibatnya, anak-anak mengalami sindrom broken-home dan tidak kerasan di rumah. Mereka mulai mencari tempat-tempat untuk mendapatkan sesuatu yang tidak mereka dapatkan di rumah. Banyak diantara mereka yang terjerumus dalam pergaulan yang salah dan pada gilirannya membawa banyak persoalan.

Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam merupakan  teladan yang baik dalam kepemimpinan keluarga. Beliau tetaplah seorang ayah yang baik bagi anak-anaknya, dan suami yang baik pula bagi istri-istrinya. Mertua yang pengertian bagi menantunya dan Kakek yang penyayang bagi para cucu.

SUAMI TELADAN

Semangat Memberi dan Melayani

Mengkaji biografi Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dalam memperlakukan Istri, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa kita harus berfikir apa yang bisa kita berikan berupa pelayanan, bukan berfikir pelayanan apa yang akan kita dapatkan. Sangatlah terpuji jika seorang suami bersedia membukakan pintu untuk istrinya yang hendak  keluar atau masuk. Baik itu pintu mobil, rumah, ataupun pintu ruang makan dan sebagainya. Ini bukanlah suatu aib atau kemunduran, tetapi merupakan akhlak mulia yang dapat menumbuhkan sikap sayang dan perhatian dari suami terhadap istri yang pada gilirannya akan dibalas sikap hormat dan ketaatan dari istri terhadap suaminya.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, “Bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam duduk di sisi unta beliau. Kemudian beliau meletakkan lututnya, lalu istri beliau Shofiyyah meletakan kakinya di atas lutut Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam hingga ia naik ke atas unta.” (HR Bukhari, Shohih no. 2235)

Kita mungkin akan berkilah dengan mengatakan terlalu sibuk untuk hal-hal seperti itu. Padahal kesibukan kita  belum seberapa jika dibandingkan dengan kesibukan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, sebagai seorang pemimpin umat, Nabi penerima ribuan ayat Al Quran, Rosul yang harus mengajarkan setiap ayat yang diterimanya. Komandan perang yang memimpin 19 perang besar dan 53 ekspedisi militer, seorang Qodhi yang memutuskan semua perkara syariah umatnya, imam setiap waktu di masjid Nabawi, sementara baginya sholat tahajud  adalah wajib. Benar sekali Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang mengatakan, “Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku diantara kalian. Tidaklah memuliakan wanita kecuali orang yang mulia. Dan tidaklah menghina wanita kecuali orang yang hina”  (HR Ibnu Asakir)

AYAH DAN MERTUA PENGERTIAN

Kasih Sayang dan Perhatian

Kondisi pada saat ini, kita seringkali minta untuk dihormati dikunjungi para menantu. Menakjubkan memang, perilaku Sang Nabi, pada masa-masa senggang, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sering berkunjung ke kediaman anak-menantu dan sahabat-sahabatnya. Sebaliknya, beliau juga sering dikunjungi Fatimah dan Safiyyah, bibinya. Setiap kali berkunjung, Fatimah membawa kedua anaknya, Hasan yang lahir dibulan Romadhon pada tahun ke 3 H/625 M, dan Husain (4 H/626 M).

Ia dikenal sebagai seorang ayah yang penuh perhatian kepada anak-anaknya, meskipun mereka sudah dewasa dan berkeluarga. Ketika hendak berangkat ke perang Badar misalnya, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berpesan kepada Utsman bin Afan t, untuk tidak ikut bersamanya dan disuruh untuk menjaga istrinya, Ruqoyyah putri beliau, yang sedang sakit. Tak lama kemudian, Ruqoyyah meninggal dunia. Ketika kembali dari Badar, yang pertama beliau lakukan adalah pergi ke pusara putrinya itu bersama Fatimah.

Idealnya sebagai mertua juga tidak melihat menantu hanya dari sisi harta dan materi, melainkan kesholihan dan komitmennya. Lihatlah, bagaimana Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam satu minggu setelah kepulangannya dari Badar, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam mendorong Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu untuk melamar Fatimah secara resmi. Pada mulanya Ali ragu karena merasa dirinya miskin, meskipun telah memiliki tempat tinggal yang sederhana. Tetapi mengingat permintaan itu datang dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, Ali menyatakan kesediaannya. Setelah melangsungkan akad nikah, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam mengadakan resepsi pernikahan Fatimah dan Ali dengan menyembelih seekor domba.

KAKEK PENYAYANG

Beberapa kali Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam membawa kedua orang cucunya, Hasan dan Husain, itu ke masjid dengan menggendongnya di atas bahu. Ketika ia berdiri dan membaca ayat-ayat dalam sholat sang cucu tetap dalam gendongannya. Baru ketika ia hendak melakukan rukuk dan sujud, sang cucu diturunkan  untuk kemudian digendong lagi ketika hendak berdiri pada rakaat selanjutnya.

Di samping itu, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam juga sering bersilaturrahim ke rumah para sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali rodhiyallohu ‘anhum untuk membicarakan masalah kemasyarakatan. Apabila berkunjung kerumah salah satu sahabat, beliau duduk di mana saja ada tempat yang terulang. Kadang-kadang beliau bercanda dengan mereka. Anak-anak mereka pun sering bermain dan duduk dipangkuannya.

Kesempatan ini digunakan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk berbincang dengan mereka dan memberikan konsultasi terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi. Meskipun mempunyai kekuasaan besar, beliau lebih memilih mendengar pendapat yang mereka kemukakan ketimbang memaksakan pendapatnya sendiri. Apabila ada yang berbicara, ia menunjukkan perhatian yang penuh. Beliau shollallohu ‘alaihi wasallam juga tidak mau dihormati secara berlebihan atau dikultuskan. Sebagaimana diriwayatkan dari Umar bin Khottob rodhiyallohu ‘anhu, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Janganlah kamu sekalian berlebihan dalam memuji-mujiku seperti orang Nasrani yang berlebih-lebihan memuja (Isa) putra Maryam. Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang hamba. Oleh karenanya, katakanlah ‘Hamba Alloh dan Rosul (utusan)Nya.’” (HR Bukhari no. 3445, HR Darimi,  ll: 320 dan Tirmidzi dalam asy-syama’il hal. 315)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *