Jerat Riba di Sekitar Kita

Alloh subhanahu wa ta’ala telah memproklamirkan perang untuk memberantas riba dan orang-orang yang meribakan harta serta menerangkan betapa bahayanya dalam masyarakat. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hai orang – orang yang beriman bertakwalah kepada Alloh dan tinggalkan sisasisa riba jika kami tidak meninggalkan riba. Maka ketahuilah bahwa Alloh dan rosulNya akan memerangimu.” (QS Al Baqoroh, ayat 278-279)

Dalam pengertian bahasa, Riba berarti az ziyadah atau berarti ‘tambahan’. Menurut istilah, riba adalah  pengambilan  tambahan dari harga pokok  (modal) dengan cara yang batil.

Disisi lain, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam juga pernah mengingatkan betapa besar dosa riba, beliau bersabda,  “Satu dirham hasil riba yang dimakan seseorang, padahal ia tahu lebih berat dosanya dari pada 36 kali berzina.” (HR Ahmad, dishohihkan oleh Syeh Al-Albani)

“Tidaklah ditampakkan riba dan zina dilakukan dengan terang-terangan, berarti mereka menghalalkan siksa Alloh untuk dirinya sendiri.” (HR Abu Ya’la, dengan sanad yang jayyid, sebagaimana pernyataan Al Mundziri)

Bunga Bank

Ali Ashabuni dalam tafsirnya, Ayatul Ahkam memaparkan, bahwa transaksi riba yang sering terjadi pada zaman jahiliiyah adalah riba jahiliyah atau sering pula di sebut  juga riba Al ‘Abbas, sering juga disebut riba An Nasiah, yaitu utang yang harus dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang telah ditentukan. Semakin lama waktunya maka semakin besar pula tambahannya, demikian seterusnya sehingga menjadi berlipat ganda (أَضْعاَفاً مُضاَعَفَة), sebagaimana dikemukakan dalam surat Ali Imron, ayat 130-131.

Yang dilarang Islam bukanlah sekedar  tambahan yang berlipat ganda, misalnya 50 atau 60%, tetapi setiap tambahan yang dipersyaratkan pada waktu terjadi akad, baik apakah tambahan itu besar ataupun kecil. Ayat Al Quran berikut adalah ayat yang melarang riba secara mutlak, baik dalam jumlah besar ataupun kecil, yaitu dalam surat Al Baqoroh ayat 278-280 Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

 “Hai orang-orang yang beriman , bertaqwalah kepada  Alloh dan tinggalkanlah riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan riba) maka ketahuilah bahwasanya Alloh dan Rosul-Nya akan memerangimu.dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS Al Baqoroh, ayat 278-280)

Lebih lanjut, Dr. Ali Ash Shabuni menambahkan bahwa, sistem bunga yang digunakan sekarang pada bank-bank konvensional adalah termasuk kategori  riba An Naasiah.

Dampak Sosial Riba di Masyarakat

Riba akan menumbuhkan sifat anaaniyah (egoisme), sekadar mementingkan diri sendiri, menghilangkan rasa solidaritas sosial dan kesetia kawanan. Sebagai akibat dari anaaniyah akan lahir pula semangat permusuhan dan kebencian dari sekelompok oang yang merasa teraniaya dan tertindas. Banting tulang untuk mencari keuntungan untuk kemudian hanya untuk diberikan lagi kepada pemilik modal yang notabene tidak berusaha dan bekerja. Sistem riba akan menafikan keadilan sosial.

Riba akan menyebabkan juga harta yang hanya terkonsentrasi kepada para aghniya (orang kaya pemilik modal), yang akan selalu mendapatkan tambahan dan keuntungan tanpa ada resiko rugi. Tentu hal ini sangat lah tidak adil.

Karena itu, Alloh subhanahu wa ta’ala melarang sebagaimana firmanNya dalam surat Al Hasyr, ayat 7, “….harta itu tidak boleh berputar dikalangan orang kaya kamu saja….”

Alternatif  pengganti  bunga bank adalah sistem bagi hasil yang intinya: rugi dan untung ditanggung bersama. Sebagai contoh, pada bank konvensional, kepentingan penyandang (penyimpan) dana adalah diperolehnya imbalan berupa bunga simpanan yang tinggi. Sedangkan, kepentingan pemegang saham adalah diperolehnya perluasan dan peningkatan (spread) yang optimal, antara suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman (optimalisasi interest  diference). Di lain pihak, kepentingan pemakai (peminjam) dana adalah biaya yang lebih murah berupa tingkat bunga yang rendah. Dengan demikain, terhadap tiga kepentingan itu sulit diharmoniskan.

Pada sistem ekonomi Islam, kepentingan penyandang dana, pemegang saham, dan pemakai dana dapat diharmoniskan. Dengan sistem bagi hasil, ketiganya berkedudukan sejajar karena memperoleh imbalan bagi hasil sesuai dengan keadaan yang benar-benar terjadi pada usaha itu.

Tambahan disisi Alloh Lebih Baik

Dalam Al Quran riba diperbandingkan dengan zakat, kadang dengan sedekah, dan kadangkala dengan jual beli. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan suatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar ia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Alloh. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Alloh, maka yang demikian itulah orang-orang yang melipat gandakan pahalanya.” (QS Ar Ruum, ayat 39)

“Alloh menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba …” (QS Al Baqoroh, ayat  275)

Ayat-ayat tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa praktik riba, sulit dihalangi bila tanpa mengefektifkan zakat, infak, sedekah, dan melaksanakan jual beli yang sehat sesuai aturan Islam.  Karena itu, kaum muslimin perlu memiliki lembaga yang kuat, amanah, dan terpercaya. Selain itu, riba harus diatasi dengan cara melaksanakan jual beli yang akadnya bersih dari unsur riba, Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, “Wahai sekalian orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta dengan jalan yang batil kecuali dengan perniagaan yang berlaku dengan saling meridhai..” (QS An Nisa, ayat 29)

Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam sangat menekankan larangan riba, disejumlah kesempatan beliau menegur sahabatnya yang terlibat dalam transaksi ribawi.  Bahkan dalam khutbah terakhir, ketika melaksanakan Haji Wada’ beliau menekankan kembali larangan riba ini. Beliau shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya semua jenis riba sudah tidak berlaku lagi. Tetapi kamu berhak menerima kembali modal piutang kamu. Janganlah kamu berbuat aniaya terhadap orang lain dan jangan pula kamu teraniaya.” (HR. Muslim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *