Dan Mereka pun Binasa

Islam—sekalipun memerintahkan perdebatan dengan cara yang lebih baik—mengecam perbantahan yang bertujuan mengalahkan lawan dengan segala cara tanpa berpegang teguh kepada logika yang sehat dan timbangan yang bijaksana antar kedua belah pihak.

Alloh ta’ala berfirman, “Dan diantara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Alloh tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya, dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Alloh…” (QS Al Hajj, ayat 8-9)

Dari Abu Ummamah rodhiyalllohu ‘anhu bahwa Nabi shallohu’alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

 “Aku menjamin istana dipinggir surga bagi orang yang meninggalkan perbantahan sekalipun dia benar dan istana ditengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta sekalipun dalam bercanda, dan istana di surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR Abu Dawud (4800) dan dihasankanya didalam Shohihul Jami’ Ash Shoghir (1464).

Subhanalloh, menakjubkan betul pesan sang Nabi ini, ketika kebiasaan mengunggulkan egoisme dan kepentingan pribadi mampu ditundukkan dengan hati lapang. Perdebatan yang hanya dilakukan semata untuk mencari kebenaran, bukan untuk menunjukkan siapa yang paling cerdik.  Kabar gembira tersebut hendaknya menjadi penyejuk jiwa laksana menemukan oase untuk melepas dahaga.  Betapa perdebatan itu bila dilakukan hanya untuk menunjukkan yang paling hebat, justru bukan kebenaran yang akan ia dapatkan.  Hasilnya, perpecahan dan silang pendapat tak kunjung usai. Pun bahkan kadang harus saling membentak dan persatuan pun menjadi retak. Hati menjadi keras dan iman tidak bertambah, justru debatnya itu dapat mengantarkan kepada kepongahan. Karena itu sesuai pesan Al Quran bahwa sejatinya dalam debat etiknya adalah ‘Jadilhum billati hiya ahsan’ berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.

Dari Abu Ummamah rodhiyalllohu ‘anhu, Nabi shallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan petunjuk kecuali karena mereka melakukan perbantahan.” Nabi shallohu’alaihi wa sallam lalu membaca (ayat), “Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (HR Tirmidzi (3250), ia berkata, “Hasan Shohih.” Adapun ayatnya terdapat dalam surat Az Zukhruf, ayat 58)

Apabila suatu kaum tidak mendapatkan taufiq (bimbingan illahi), ia pasti akan meninggalkan amal  dan tenggelam dalam perbantahan karena salah satu tabiat manusia adalah suka perbantahan, “…Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (QS Al Kahfi, ayat 54)

Di lapangan dakwah Islam, kita saksikan adanya orang-orang yang tidak mempunyai perhatian kecuali terhadap perbantahan dalam segala hal. Mereka tidak mempunyai kesiapan untuk menarik pendapatnya sedikit pun. Mereka hanya menginginkan agar orang lain mengikuti pendapatnya.

Di antara mereka ada yang mengecam fanatisme kepada madzhab, tetapi mereka sendiri membuat madzhab baru dan menyerang orang lain yang tidak sepaham dan tidak mau mengikutinya.

Di antara mereka ada yang mengharamkan taqlid, tetapi mereka sendiri menuntut orang lain agar mengikutinya. Atau melarang taqlid kepada ulama terdahulu, sedangkan mereka sendiri bertaqlid kepada ulama sekarang.

Di antara mereka ada yang melakukan konfrontasi demi masalah-masalah furu’iah (cabang) dan sektoral, padahal para salaf sendiri pernah memperselisihinya, tetapi tidak sampai menimbulkan keruhnya hubungan sesama saudaranya.

Aib mereka adalah perbantahan atau permusuhan sengit, yang dikecam oleh Alloh dan RosulNya. Dari Aisyah, ia berkata, “Sesungguhnya, orang yang paling di murkai Alloh adalah orang sengit dan suka bermusuhan.” (HR Muslim no. 2668).

Perbantahan dan perdebatan yang paling dibenci ialah perbantahan di sekitar Al Quran yang sesungguhnya diturunkan Alloh ta’ala untuk memberikan kata putus terhadap apa yang diperselisihkan oleh manusia. Jika Al Quran dijadikan sumber perselisihan, ukuran dan pedoman apa lagi yang akan dijadikan rujukan oleh manusia?

Dari Abdulloh bin Amr rodhiyalllohu ‘anhu, ia berkata, “Pada suatu hati, aku bersegera datang kepada Rosululloh shallohu’alaihi wa sallam, beliau lalu mendengar suara dua orang yang memperselisihkan ayat Al Quran lalu Rosululloh shallohu’alaihi wa sallam keluar kepada kami dengan wajah yang menampakkan kemarahan seraya bersabda,

إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ مِنَ اْلأُمَمِ بِاخْتِلاَفِهِمِ فِي الْكِتَابِ

‘Umat sebelum kamu binasa hanyalah karena mereka memperselisihkan Al Kitab.’” (HR Muslim no. 2666)

Imam Nawawi berkata, “Yang dimaksudkan kebinasaan orang-orang sebelum kita ialah kebinasaan mereka dalam agama akibat kekafiran dan kebid’ahan mereka. Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam memperingatkan kita agar tidak mencontoh perbuatan mereka.” (Shohih Muslim Syarhun Nawawi, 16/218, Darul Kutubil Ilmiah)

Bila kebiasaan debat kusir membudaya dan mengakar di tengah masyarakat sesungguhnya perdebatan itu menjadi pintu tersembunyinya kebenaran. Bagaimana tidak, kebenaran yang datang justru akan ditolak mentah dianggap sebagai penghalang visi mereka. Pada akhirnya yang dianggap sebagai agama hanyalah merupakan perkataan para pembesar saja, sementara itu kitab suci sebagai acuan tidak dihiraukan. Bahkan secara substansi dicampakkan dan lebih asyik dengan ritual buatan mereka sendiri yang tidak bersumber dari kitab suci.

Idealnya, kitab suci perlu disampaikan dengan pemahaman yang menyeluruh dengan pola diskusi yang mencerdaskan dan dipahami dengan kerangka keimanan. Sehingga ayat suci Al Quran tidak dipertentangkan atau diplintir untuk kepentingan seglintir orang.

Riwayat dari Ibnu Amr rodhiyalllohu ‘anhu menjelaskan secara rinci. Ia berkata, “Aku dan saudaraku pernah duduk dalam sebuah majelis yang lebih aku sukai daripada onta merah. Saat itu, aku dan saudaraku datang, namun ada beberapa orang sahabat Rosululloh shallohu’alaihi wa sallam duduk disalah satu pintunya. Kami tidak ingin memisahkan tempat duduk mereka sehingga kami duduk terpisah disudut. Tiba-tiba mereka menyebutkan satu ayat Al Quran dan memperdebatkannya sehingga suara mereka semakin keras. Mendengar ini, Rosululloh shallohu’alaihi wa sallam langsung keluar dalam keadaan marah dan merah mukanya seraya menaburkan pasir kepada mereka, Rosululloh shallohu’alaihi wa sallam bersabda,

مَهْلاً يَا قَوْمِ، بِهَذَا أُهْلِكَتِ اْلأُمَمُ مِنْ قَبْلِكُمْ، بِاخْتِلاَفِهِمْ عَلى أَنْبِيَائِهِمْ، وَضَرْبِهِمِ الْكُتُبَ بَعْضَهَا بِبَعْضٍ، إِنَّ الْقُرْآنَ لَمْ يَنْزِلْ يُكَذِّبُ بَعْضُهُ بَعْضًا، إِنَّمَا يُصَدِّقُ بَعْضُهُ بَعْضًا، فَمَا عَرَفْتُمْ مِنْهُ فَاعْمَلُوا بِهِ، وَمَا جَهِلْتُمْ مِنْهُ فَرُدُّوهُ إِلى عَالِمِهِ

“Lihatlah, wahai manusia! Dengan inilah umat-umat sebelum kalian binasa. Mereka menentang para Nabi mereka dan mempertentangkan sebagian isi al-Kitab dengan sebagian yang lain. Sesungguhnya, Al Quran tidak diturunkan sebagiannya mendustakan sebagian yang lain, tetapi justru sebagiannya membenarkan sebagian yang lain. Apa yang telah kamu ketahui darinya hendaklah kamu amalkan dan apa yang belum kamu ketahui hendaklah kamu kembalikan (tanyakan) kepada orang-orang yang mengetahuinya.” (Hadits no. 6702 dari Al Musnad (1/174-175)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *