Bahaya Lisan

 

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”

(Shohih, HR Al Bukhori no. 6090 dan Muslim no. 48)

Lisan merupakan salah satu nikmat Alloh ta’ala yang terbesar. Alloh ta’ala menganugerahkan kepada kita sebagai alat untuk berbicara, menjelaskan isi hati dan sebagainya. Meski begitu, kita perlu mengetahui bahwasanya lisan yang berfungsi untuk berbicara ini seperti senjata bermata dua. Yaitu dapat digunakan untuk taat kepada Alloh ta’ala dan juga dapat digunakan untuk bermaksiat kepadaNya.

Jika seorang hamba mempergunakan lisannya untuk membaca Al Quran, berdzikir, berdoa kepada Alloh ta’ala, untuk amar ma’ruf nahi munkar atau untuk lainnya yang berupa ketaatan kepada Alloh ta’ala, maka inilah yang dituntut dari seorang mukmin, sebagai perwujudan syukur kepada Alloh ta’ala terhadap nikmat lisan.

Sebaliknya, jika seseorang mempergunakan lisannya untuk berdo’a kepada selain Alloh ta’ala, berdusta, bersaksi palsu, melakukan ghibah, namimah (mengadu domba), memecah belah umat Islam, merusak kehormatan seorang muslim, atau lainnya yang berupa kemaksiatan kepada Alloh ta’ala, maka ini diharamkan bagi seorang mukmin, dan merupakan kekufuran kepada Alloh ta’ala terhadap nikmat lisan.

Dengan demikian, lisan manusia itu bisa menjadi faktor yang bisa mengangkat derajat seorang hamba di sisi Alloh ta’ala, namun juga bisa menyebabkan kecelakaan yang besar bagi pemiliknya. Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhoan Alloh, dia tidak menganggapnya penting dengan sebab satu kalimat itu Alloh menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Alloh, dia tidak menganggapnya penting dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam.” (HR Al Bukhori, no. 6478).

Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani menjelaskan makna Dia tidak menganggapnya penting”, yaitu dia tidak memperhatikan dengan fikirannya dan tidak memikirkan akibat perkataannya, serta tidak menduga bahwa kalimat itu akan mempengaruhi sesuatu. (Lihat Fathul Bari, penjelasan hadits no. 6478).

Termasuk perkara yang mengherankan, ada seseorang yang mudah menjaga diri dari makanan haram, berbuat dzolim kepada orang lain, berzina, mencuri, minum khomr, melihat wanita yang tidak halal dilihat dan lainnya. Namun dia seakan sulit menahan lisannya dari mengucapkan kalimat-kalimat yang menimbulkan kemurkaan Alloh ta’ala, dan ia tidak memperhatikannya. Padahal hanya dengan satu kalimat itu saja, dapat menyebabkan dirinya bisa terjerumus ke dalam neraka Jahannam.

Kadang kita tidak sadar apa yang  kita ucapkan, yang mungkin ucapan kita itu menyinggung bahkan melukai hati saudara kita. Maka Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita agar senantiasa menjaga lisan. Karena lisan jauh lebih tajam daripada pedang. Luka karena pedang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang benar. Sedangkan luka karena lisan akan terus terkenang. Dan benarlah Rosullloh shallallohu ‘alaihi wasallam, bahwa banyak orang yang akan celaka karena tak bisa menjaga lisannya.

Disebutkan pada hadits yang ke-29 dari kitab Hadits Arbain An Nawawi, bahwa Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam ditanya oleh sahabat Muadz bin Jabal radhiyallohu ‘anhu,

ياَ نَبِيَّ اللهِ، وَإِنّاَ لَمُؤَاخِذُوْنَ بِماَ نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقاَلَ النَّبِيُّ  : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ ياَ مُعاَذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النّاَسَ فِي النّاَرِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ

“Wahai Nabi Alloh, apakah kita akan disiksa karena ucapan-ucapan kita?” Beliau menjawab, “Celaka kamu. Bukankah banyak dari kalangan manusia yang tersungkur ke dalam api neraka dengan mukanya terlebih dahulu (dalam riwayat lain: dengan lehernya terlebih dahulu) itu gara-gara buah ucapan lisannya?” (HR At Tirmidzi ia berkata, “Hadits ini hasan shohih.”)

Al Hafidz Ibnu Rajab mengomentari hadits ini dalam kitab Jami’ Al Ulum wa Al Hikam (II/147), “Yang dimaksud dengan buah lisannya adalah balasan dan siksaan dari perkataan-perkataannya yang haram. Sesungguhnya setiap orang yang hidup di dunia sedang menanam kebaikan atau keburukan dengan perkataan dan amal perbuatannya. Kemudian pada hari kiamat kelak dia akan menuai apa yang dia tanam. Barangsiapa yang menanam sesuatu yang baik dari ucapannya maupun perbuatan, maka dia akan menunai kemuliaan. Sebaliknya, barangsiapa yang menanam Sesuatu yang jelek dari ucapan maupun perbuatan maka kelak akan menuai penyesalan.

Keutamaan Menjaga Lisan

Seseorang yang bisa menjaga lisannya akan mendapat jaminan dari Nabi r berupa surga. Dari Sahl bin Sa’d radhiyallohu ‘anhu Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin baginya surga.” (HR Al Bukhori no. 6088)

Semoga kita diberi kemudahan oleh Alloh ta’ala untuk melaksanakan perintahNya dan perintah RosulNya, dan diberi kemampuan untuk mendapat keutamaan tersebut dengan senantiasan menjaga lisan kita.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *